Hantu Jeruuk Purut
12:10 AM |
Label:
Misteri Horror
Kalian pasti sering mendengar tentang hantu jeruk purut. Tapi, apa kalian tau legenda hantu itu?
Nah, sekarang aku bakal ceritain tentang legenda hantu itu...
Katanya, tahun 1986, seorang penjaga makam TPU jeruk purut yang sedang jaga malam melihat seorang pastur yang berjalan tanpa kepala. Pastur itu menenteng kepalanya sendiri diikuti seekor anjing. Katanya, si pastur "salah pulang", maksudnya salah makam. Makamnya berada di Unit Kristen Tanah Kusir, sedangkan yang dia lalui adalah TPU jeruk purut unit Islam.
Jadi, apa kalian percaya jika hantu itu benar-benar ada?
Mungkin saja, dia akan bertemu kalian suatu saat. Tapi, gak tau juga yaa.. Wallahuu Alaam. Hanya allah yang tau. Semoga aja, kita gak pernah ketemu dengan nya...
Desain Rumah real estate design collection SEO |
Read User's Comments(2)
My Life Adventure: The Cookies and Tea (Klub Musik dan Band)
12:45 AM |
The Cookies and Tea (Klub Musik dan Band)
12:43 AM |
Label:
The Cookies and Tea
Klub Musik dan Band
“Semua sudah berkumpul kan? Jadi, mari kita mulai pertemuan pertama kita di klub ini pertama kali” Nata berbicara dengan semangat dan riang.
“Yaaaa!” sahut Clara riang.
Clara memandangi heran kedua orang itu. Sedangkan Luna, hanya tersenyum simpul melihat kedua temannya bersemangat. Mereka berkumpul kembali keesokan harinya pas istirahat siang.
“Nah, mari kita kenalkan diri kita masing-masing sekarang” kata Luna.
“Aku yang pertama ya!” Nata mengajukan diri.
“Ya…silakan!” jawab Luna.
“Nama lengkap ku Nata Claresta. Panggil aku Nata. Kelas ku adalah tujuh C seperti kalian. Alat music yang bisa aku mainkan adalah drum. Alasan ku menyukai dan mempelajari alat musik itu karena bagiku drum adalah alat music yang paling mudah untuk dimainkan” Nata memperkenalkan diri.
“Berikutnya aku” Chaca segera mengajukan diri sambil mengangkat tangan kanannya.
“Ya!” Luna menjawab.
“Aku Clara Afriani. Panggil saja Clara. Aku juga di kelas tujuh C. Hobi ku makan-makanan manis. Aku juga menyukai hal-hal yang berbau mistis. Alat music yang bisa ku mainkan dari kecil adalah keyboard” jelas Clara.
“Aku Luna Khaira. Panggil saja Luna. Aku juga di kelas tujuh C. Aku suka dengan hal-hal yang berbau islami. Aku hanya bisa memainkan alat music bass” katanya dengan sopan dan jelas.
“Nah…sekarang giliran Chaca” kata Nata.
“Hmmm…aku Chaca Freysa. Kalian bisa memanggil ku Chaca. Sama seperti kalian, aku juga di kelas tujuh C. Cita-cita ku adalah bisa membuat band terhebat dan menjadi guitarist terbaik yang pernah ada” kata Chaca.
“Nah…perkenalan diri kita selesai. Kita akan berkumpul lagi sepulang sekolah nanti” Luna mengatakan sembari berdiri berjalan keluar.
“Ayo kita ke kelas sama-sama!” ajak Clara sambil menarik tangan Chaca.
“Ya! Ayo!” Chaca berdiri mengikuti langkah 3 teman barunya itu. Dia merasa senang karena akhirnya dia tidak sendirian lagi. Mulai hari ini, dia akan menjalani kehidupan sekolah yang menyenangkan.
♬♬♬
Teng teng…
Bel pertanda sekolah usai pun berbunyi. Chaca mengahmpiri ketiga teman barunya segera pergi ke ruang klub. Chaca membawa gitar kesayangannya ke ruang klub. Luna membawa bass miliknya. Clara membawa keyboardnya, sedangkan Nata hanya membawa stik drumnya. Mereka segera pergi untuk mengetes kecocokan music mereka berempat.
“Coba kita mainin lagunya Nidji yang Laskar Pelangi?” pinta Nata.
“Oke…” balas yang lain.
“One, Two, Three, GO!!” Nata member aba-aba. Mereka memainkan lagu itu dengan sangat baik. Bagus sekali. Merdu, tidak kalah dengan band aslinya.
Plok..plok..
Suara tepuk tangan seseorang di depan pintu ruang klub.
“Bagus sekali”. Ya, suara yang lembut memuji Chaca dan teman-temannya. Bu Kina, pembina klub music dan band ini masuk ke dalam ruang klub.
“Maaf saya terlambat. Tadi ada rapat guru-guru”. Jelas Bu Kina.
“No problem bu! Kami juga hanya mengetes kecocokan music kami berempat. Bagaimana pendapat ibu?” Tanya Clara.
“Bagus. Musik kalian cocok. Suara gitar Chaca, bass Luna, Keyboard Clara, dan gebukan drum Nata bercampur menghasilkan music yang bagus” komentar bu Kina sambil tersenyum.
“Makasih bu” jawab keempat murid tersebut kompak.
Chaca, Luna, Clara, dan Nata menuju kursi yang telah mereka sediakan saat merapikan ruang klub kemarin. Mereka berempat termasuk bu Kina duduk bersama di atas kursi masing-masing dan di hadapan mereka meja berbentuk persegi empat panjang. Diatasnya terdapat 5 gelas minuman es teh dan beberapa cookies.
“Jadi, apa kalian sudah menentukan nama band kalian ini?” Tanya bu Kina.
“Hoo iya. Kami belum menentukannya” kata Chaca sambil mengunyah cookiesnya itu.
“Iya ya. Apa ya namanya?” piker Clara sambil mengunyah cookies nya penuh di dalam mulutnya itu.
“Claraa!! Kalo ngomong jangan sambil ngunyah gitu dong. Lihat tuh, muncrat semua!” protes Luna sambil menunjuk remah-remahan cookies yang jatuh di atas meja di depan Clara.
“Iya iya. Maaf. Ntar cookies nya abis. Aku gak dapet. Hehe” Clara member alasan.
“Sruupppp…ahh…!!” Nata meneguk es teh nya dengan cepat.
“Naataaa!!! Minumnya pelan-pelan dong!” protes Luna lagi.
“hem..?? Iya iya deh” jawab Nata.
“Ckckckck…kok jadi sibuk makan minum sih? Nama band nya apa?” kata Chaca melirik Clara dan Nata yang sibuk makan dan minum.
“Hem..okeoke…maaf” Nata menjawab dan berhenti memakan cookies yang dipegangnya.
“Claaraaa!!” lirik Chaca ke Clara yang sedang mengambil cookies lagi.
“Iya deh. Iya” Clara menurunkan tangannya yang tadi akan mengambil cookies. Dia nggak jadi mengambil cookies tadi.
“Haha…kalian ini” tawa bu Kina.
“Gimana kalo nama band nya The Tea?” usul Luna.
“Kenapa?” Tanya Nata.
“Kita kan minum teh” alasan Luna.
“Kalo di tambah Cookies gimana?” usul Clara yang dari tadi berusaha mengambil cookies yang tinggal 2 buah di atas meja.
“Great Idea!!” kata Nata spontan.
“Jadi nama band kita…” Chaca mencoba menggabungkan kata-kata yang di usulkan teman-temannya itu.
“The Tea and Cookies!!!” teriak mereka berempat kompak.
“Good name girls!” puji bu Kina.
“Yosh!!! Jadi kita adalah sebuah band yang bernama The Tea and Cookies!” Nata mengulang nama band mereka dengan semangat.
“Yeaah!!!” teriak yang lain semangat.
“Nah, kalo gitu ibu pamit dulu ya. Sudah jam 4 sore. Ibu masih harus beres-beres rumah. Dah…” bu Kina pamit dan keluar dari ruang klub.
“Iya ya, gak kerasa udah ham 4 sore. Pulang yuk!” ajak Luna.
“Beresin dong nih dulu!” ajak Chaca.
Mereka membereskan ruang klub mereka. Meja yang berisi remahan cookies dan tetesan es the tadi dibersihkan. Gelas-gelas tadi dicuci bersih. Tak lupa mereka menutup jendela ruang klub. Chaca memasukkan Gitar kesayangannya ke tasnya lagi, Luna memasukkan Bassnya ke dalam tasnya, Clara memasukkan keyboardnya, dan Nata memasukkan stik drumnya ke tas. Mereka bersiap pulang ke rumah masing-masing.
♬♬♬
Desain Rumah real estate design collection SEO |
The Cookies and Tea (Tahun Ajaran Baru)
12:50 AM |
Label:
The Cookies and Tea
hai semua... kali ini aku mau nge-post tentang novel karangan ku yang masih setengah jadi... Silakan dibaca ya...
THE COOKIES AND TEA
1. Tahun Ajaran Baru
Suasana pagi tetap seperti biasa. Udara pagi masih terasa segar tanpa asap-asap dan debu-debu bertebaran. Tahun ajaran baru, adalah tahun yang paling menyenangkan, karena semua pelajar memasuki tahun belajar baru dengan suasana baru dan yang pasti menyenangkan. Tapi tidak bagi Chaca. Pagi itu, seperti biasa, dia tetap tidak bisa memulai sifatnya yang baru. Dia sudah biasa ‘langganan’ untuk kesiangan.
“Waaa…gawat! Udah jam 7. Bisa-bisa aku terlambat untuk ikut upacara. Duuh…cepet…cepet…” yups…seperti biasa dan selalu begitu. Chaca langsung ke bawah memakan rotinya dan berlari pergi. Secepat mungkin dia menyetop bis yang sedang melaju. Setelah sampai di sekolah barunya, dia merasa lega. Upacara belum dimulai, beruntung sekali Chaca pagi itu. Tapi bukan sekali itu saja dia mengalami keberuntungan itu. Terhitung sudah 20 kali dia seperti itu. Entah apa yang membuatnya selalu beruntung.
Di gerbang sekolah barunya terpampang spanduk bertuliskan “SELAMAT DATANG DAN SEMOGA BAHAGIA”. Yah, seperti spanduk untuk pernikahan. Chaca memandangi spanduk itu dengan heran. Chaca mulai memasuki sekolah barunya itu. Dia mendekat ke papan pengumuman dimana tertempel banyak nama yang dibagi menjadi beberapa kolom untuk membedakan kelasnya.
“Hmm…kelas tujuh…” Chaca berusaha mencari namanya.
“Ahaa…ketemu! Tujuh C?” Chaca masih mengamati nama-nama yang siswa yang masuk kedalam kelompok kelasnya itu. Tapi, tidak ada satu pun orang yang dia tahu.
“Chaca!” Chaca menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tia dan Intan memanggilnya. Dua temannya yang sejak SD selalu sekelas dengannya.
“Ah, hei!” Chaca balas menyapa.
“Dapat kelas mana?” Tanya Tia pada Chaca.
“Tujuh C. Kalian?” balas Chaca.
“Aku dan Tia satu kelas. Kami di kelas tujuh A.” jawab Intan sambil tersenyum.
“Huaaa…kalian licik!” teriak Chaca kesal.
“Loh, kok licik?” Tanya Tia yang heran melihat Chaca yang memasang tampang kesal.
“Ya! Licik! Kok aku gak dapet kelas yang sama ma kalian sih?” Chaca menjawab masih dengan tampang kesal.
“Haha…Chaca, Chaca! Mau gimana lagi? Udah ditentuin dari sananya. Udah mutlak! Sabar aja lah” kata Intan sambil tertawa dan disambut juga dengan tawa dari Tia. Chaca makin kesal, rasanya ingin dia balas perkataan kedua temannya itu. Tapi…
Teng Teng…
“Udah ya Cha. Bel udah bunyi. Kita mau ke lapangan dulu. Kan masih ada upacara. Dah ya. Bye” kata Intan.
“Ya Cha, bye” lambai Tia dan Intan sambil meninggalkan Chaca yang masih kesal.
“Uuh..dah ah. Mendingan baris” Chaca berangsur pergi ke lapangan.
♬♬♬
Selama 40 menit mereka upacara. Hampir 20 menit dihabiskan untuk mendengarkan pidato dari kepala sekolah. Selama itu pula Chaca hampir tertidur. Seandainya waktu itu ada bantal, dia pasti akan langsung tidur tanpa menunggu. Dia merasa ingin sekali melempar sepatunya ke depan kepala sekolah itu *cara yang tidak patut dicontoh*, tapi dia merasa sepatunya masih bagus. Baru dibeli, jadi sayang kalau dilempar, itulah pikirnya.
Selain itu, kepala sekolahnya itu memang menyebalkan. Ketika dia akan mengakhiri pidatonya itu, tiba-tiba dia menambahkan lagi kata-kata lain, contohnya,
“Nah sekian pidato dari saya…” Chaca merasa lega mendengar itu, tapi…
“Saya harap kalian betah menjadi murid disini ya” Chaca masih meredam perasaan kesalnya.
“Sekian dan terima kasih” kata kepala sekolah, dan…
“Sekali lagi, saya harap kalian semua betah menjadi murid disini”
Ingin sekali Chaca melemparkan sepatunya itu. Begitu berulang-ulang hingga menghabiskan waktu 5 menit. Selama itu pula, Chaca menahan diri supaya tidak melampiaskan kemarahannya dengan cara yang tidak benar itu. Setelah itu, upacara yang menyebalkan itu selesai. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Kekesalan Chaca masih berlanjut, karena dia mendapat tempat duduk di pojok belakang. Dan lagi, dia tidak kenal dengan siapa pun yang ada di kelasnya itu. Chaca hanya bisa duduk termangu melihat teman-temannya yang lain bercanda, ngobrol, dan berbagi cerita bersama. Sedangkan dia, hanya duduk di pojokan seperti orang yang sedang menunggu antrian panjang pembagian sembako gratis. Menyedihkan dan menyebalkan bagi Chaca.
Tiba-tiba seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas Chaca. Para siswa dan siswi yang dari tadi ngobrol bersama temannya langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Si guru itu langsung berbicara,
“Nah murid-murid, selamat datang ke SMP ini. Saya harap kalian betah untuk belajar di SMP ini. Sebelumnya selamat karena telah bisa masuk ke SMP ini, salah satu SMP favorit di kota kita ini. Perkenalkan, saya Kina Perjandi, saya adalah wali kelas dan saya mengajar pelajaran Seni dan Budaya. Ada yang mau ditanyakan?” begitulah penjelasan dari ibu Kina yang hanya terdengar sedikit oleh Chaca yang sedari tadi hanya terbengong di pojokan kelas.
“Ibu masih single atau udah married bu?” Tanya salah satu murid laki-laki.
“Saya masih single” jawabnya.
“Tanggal lahir ibu berapa bu?” murid lain bertanya.
“28 September” jawabnya lagi.
“Ada lagi pertanyaan?” Tanya ibu Kina.
“Kalau begitu lebih baik kita saling memperkenalkan diri. Semua murid satu-persatu maju ke depan memperkenalkan dirinya masing-masing” jelas ibu Kina. Maka, dimulailah acara perkenalan diri itu. Diantara murid-murid itu ada 3 orang murid yang menarik perhatian Chaca. Mungkin karena sifat mereka yang menurut Chaca agak aneh.
Yang pertama namanya Luna. Dia memakai jilbab dengan modis dan rapi. Terlihat agak feminine dan pemalu. Badannya kecil dan sepertinya pintar. Ketika memperkenalkan diri pun dia terlihat gugup dan malu.
Yang kedua adalah Nata. Cewek ini memakai baju yang kurang rapi. Terlihat sekali bahwa dia tidak feminine dan jauh dari kata feminine itu. Cara berbicaranya pun santai dan tidak gugup.
Yang ketiga itu namanya Clara. Cewek yang bajunya terlihat rapi. Dia terlihat berbicara spontan dan menarik perhatian semua murid karena cara berbicaranya yang lucu seperti anak-anak.
Setelah memperkenalkan diri masing-masing, ibu Kina memberikan selebaran yang berisi daftar kegiatan ekstra kulikuler yang akan dipilih siswa-siswi masing-masing. Diantara semua daftar itu, hanya satu ektra kulikuler yang menarik perhatian Chaca, yaitu “Klub Musik dan Band”. Chaca yang dari dulu menyukai hal-hal berbau band dan selalu bercita-cita bisa membuat sebuah band yang berisi cewek semua.
Setelah ibu Kina keluar, seluruh murid keluar untuk mendaftar ke klub atau ektra kulikuler yang mereka pilih. Chaca bergegas pergi ke ruang klub musik dan band yang berada di kelas bawah. Chaca segera memasuki ruang klub itu.
“Permisi…” sapa Chaca.
Tak ada sahutan. Kosong dan tidak ada satu orang pun. Ketika dia melangkah keluar dan berbalik tiba-tiba 3 cewek berada di belakangnya.
“Huaa…!!” Chaca terkejut karena tiba-tiba 3 cewek itu datang.
“Loh, kalau gak salah kamu kan Chaca Freysa itu kan?” Tanya salah satu dari mereka.
“Loh, kalian kan Luna Khaira, Nata Claresta, dan Clara Afriani kan? Bukankah kalian satu kelas dengan ku? Ya kan?” Chaca balik bertanya.
“Kok kalian disini? Gak daftar ekskul ya?” Tanya Chaca.
“Kami kesini untuk ikut klub ekskul ini” jawab Nata dengan santai.
“Kamu?” Tanya Clara.
“Aku kesini juga mau daftar sih, tapi waktu aku masuk gak ada orang. Sepi dan kosong. Jadi, aku mau ke kantor guru untuk menemui ibu Kina yang menanggung jawabi klub ini. Kalian mau ikut?” jelas Chaca.
“Boleh…ayo!” Nata segera menarik tangan Chaca dan Luna dan segera berjalan menuju kantor guru diikuti Clara dibelakang. Sesampai di kantor guru, mereka langsung menemui ibu Kina.
“Jadi kalian mau ikut klub itu?” Tanya bu Kina.
“Ya dong. Tentu bu!” jawab Nata semangat.
“Kalau gitu, kalian susun aja klub itu dulu dan sekalian rapikan ruang klubnya. Nih kuncinya” bu Kina memberikan kunci ruang klub kepada Chaca. Mereka segera kemabali menuju ruang klub. Mereka merapikan dan menata semua barang-barang klub itu. Rencananya, mereka akan memulai menyusun klub itu besok. Hari ini, mereka hanya akan merapikan ruang klub.
♬♬♬
Desain Rumah real estate design collection SEO |
Semua Tentang Kita
Sekarang udah naik kelas sembilan. Gak bakal sekelas lagi bareng temen2 Phand_Bie. Selama di kelas semua gokil. Bikin ngakak.
Dengan makhluk-makhluk yang ngumpul di Phand_Bie, selalu aja ada catatan harian nya.
Berikut Daftar Makhluk-makhluk Phand_Bie.
Akbar Prawira
Nih anak sumpah, mulutnya gak bisa berhenti buat ngejekin orang. Mukanya agak ke Cina-an. Kadang agak ERROR. Kalo ngomong bisa produksiin air liur seember sehari. Makanya sering dipake di kelas buat wudhu. *wakakakak*
Arini Rizqi Karimah
Nih anak kalo ngomong keciiiiiillll banget suara nya. Penurut banget. Paling cocok jadi pembantu. Saking penurut nya, waktu liburan bareng kelas *maksudnya liburan bareng siswa nya bukan kelasnya* dia gue suruh bawa barang2 gue. Wakakakka.. Kalo kalian pengen buktiin, coba kalian suruh dia nyuci baju kalian, pasti dia gak mau! *ya jelas gak mau, gue aja gak mau!*
Arumita Puspa Hapsari
Kalo nih anak, dia cantik, baek, kaya, pinter, komplit! Suka teriak-teriak dikelas karena dia katanya mau jadi tukang jual ikan yang suka teriak-teriak. Cita-cita nya rentenir. Wakakaka...
Ayu Azhari
Nama sih bagus. Ayu Azhari. Orangnya ANCUURR.. Wakakakak.. Dia hobi nyanyi, tapi pas dia nyanyi disangka lagi mau BAB. *gak tau BAB, cari sendiri*. Kalo berantem sama paus a.k.a Katlya, suka narik kerudungnya paus. Nge-fans banget sama KOREA.
Devi Wardhani P
Dia pinter. Makanya gue suka nyontek ke dia. Rajin bawa laptop. Gak tau deh buat apa. Kalo ke WC juga bawa laptop saking rajinnya. Kalo pelajaran MTK dia paling pinter. Makanya gue suka deket-deket duduk ma dia. Sekalian nyontek gitu...
Fans berat ANIME dan MANGA.
Dhita Dwi Nanda
Kalo dikelas, dia suka nyanyi. Suaranya emang bagus. Gak jauh beda sama suara Elvi Sukaesih. Lawan berantemnya Arum. Kalo mereka udah berantem, ya mendingan ngejauh aja.
Dini Agrina
Sumpah!! Nih anak aneh... Suka marah sendiri. Senyum sendiri. Jadi merinding gue. Suka ERROR. Jarang ngomong. Dibilang misterius, kebagusan. Marahnya aneh. Pernah kita lempar kaos kaki bau ke dia, eh dianya marah-marah.. *jelas aja marah!*
Erza Sudarso
Nih satu, makhluk aneh juga. Kalo ngomong GAJE alias GA JElas. Huakakakak.. DARSO namanya.
Hadi Fitriansyah
Suka aneh nih anak. Maklum, rada cacingan. Makannya banyak gak gemuk-gemuk. Kasian gue. Wakakakak
Hariguna
Wakakaka.. nih juga. Salah satu makhluk aneh nya. Suka GAGAP. Kalo kalian suka nonton UPIN & IPIN, kalian pasti tau si IJAD. Nah, mirip tuh sama hariguna a.k.a IGUN.
Katlya Setiodini
Badannya gemuk. Rambutnya kribo. Tapi dia baik kok. Kocak orangnya, gokil. Wakakaka. BOZZ di kelas. Mother of Idiot Family. Suka nyeremin kayak mukanya. *piss bozz.. mmuuuaaahhh*
BOZZ...! GOKIL
Lia Rizqy Pratiwi
Paling suka produksi Jerawat. Anaknya suka ERROR, tapi gak parah kok. Paling dia suka nyiket giginya pake sapu lidi. *PARAAHHH*
Wakakakak.. anaknya baek kok.
M.Ari Kafin
Nih anak punya ciri khas. Yaitu JENDOL di keningnya. Wakakaka.. suka ngeres alias MESUM. *piss Ri..* Yang paling suka liat ke meja gue kalo lagi ulangan... wakakakak
Pachira Eizza Paramitha
Anaknya pinter, jenius. Kalo ulangan gak pernah pelit ke gue. Enak diajak curhat. Makanya gue suka deket-deket dia kalo lagi ulangan.
R.M Sagi Janitra
Dia gak bisa nyebut huruf "R". Suka ngebales ngatain orang yang ngatain dia. *idiiih.. ribet*
R. Ridwan H.T.P
Nih juga, makhluk yang suka ngatain orang. Samppe bibirnya memble.. Wakakakakakakakakakaka... Sering coba nyapa devi, tapi selalu dicuekin.. kasian nya dirimuu..
Reysa Dinda Lestari (GUE)
Terserah lah orang bakal bilang apa tentang gue...
Riski Wulandari
Wulan ini, ketua OSIS di sekolah. Dia suka telat ke sekolah, tapi jarang dihukum. *nasibnya baek mulu*. Wulan itu baek, hobi foto-foto muluuu.. haha. Pinter bikin argumen. Kalo debat ma dia waktu diskusi, rasaaanyaaaa suuuussssaaaaahhhh.... Orang kayak dia mungkin cocok jadi tukang sayur kali ya..? *apa hubungannya??*
Siti Agni Anggraini
Nih orang suka ERROR.. kalo IDIOT nya kambuh, ya mendingan lari deh.. wakakakak..
Tanty Prianty
Nih anak joroknya minta ampunnn... saking joroknya, dia pernah buang ingus di serbet.. *buat yang jantungan jangan baca ya..* Paling rajin bikin PR MTK.
Try Okta Bagaskara
Dia baekk banget. Rajin bawa laptop kesekolah. Maen game nya NINJA SAGA muluuuu.. gak bosen apa. Dia yang bikin tragedi KETAWAN MENYONTEK. Padahal kita gak nyontek loh. Kita kan cuma kerja sama waktu ulangan.. *sama aja kali*
Ulma Aydilla
Ulma orangnya tinggiii banget. Mungkin tiap hari makannya tiang bendera kali ya.. dia pinter, tapi akhir2 ni nilainya turun..
Wahyu Nuryadi
Anaknya nyebelin.. ><
Yuni Kartika
Tika ini kalo udah nyanyi ya ancuurr.. kalo dia udah nyanyi mendingan ngejauh deh. Ya..? hati-hati..
Nah, selama kita di kelas Phand_Bie ini, banyak kejadian-kejadian yang menyenangkan. Yaitu,
1. Kejadian pas awal-awal yaitu Dini dianiaya sama Wulan n Tanty.
2. Pas pelajaran belum maksimal, kita banyak nganggur. Nah, pas inilah TRAGEDY INGUS TANTY
3. Kita pindah ruang kelas.
4. Jamannya maen rujak. *bukan rujak makanan looh..*
5. Ulangan TIK, kita dapet bocoran soal, tapi kita dituduh nyontek. Melayang deh nilai 100 gue...
6. Oh ya, waktu kita di kelas lama, juga ada pertempuran hidup mati *lebay ah* antara dhita n arum.
yang lainnya banyak.. Gue lupa...
Yang terakhir kita liburan bareng ke Pantai Teluk Uber dan Bukit Pung In.
Makanya, ikuti cerita kita semua..
We LOVE Phand_Bie
Desain Rumah real estate design collection SEO |
Langganan:
Postingan (Atom)





























