hai semua... kali ini aku mau nge-post tentang novel karangan ku yang masih setengah jadi... Silakan dibaca ya...
THE COOKIES AND TEA
1. Tahun Ajaran Baru
Suasana pagi tetap seperti biasa. Udara pagi masih terasa segar tanpa asap-asap dan debu-debu bertebaran. Tahun ajaran baru, adalah tahun yang paling menyenangkan, karena semua pelajar memasuki tahun belajar baru dengan suasana baru dan yang pasti menyenangkan. Tapi tidak bagi Chaca. Pagi itu, seperti biasa, dia tetap tidak bisa memulai sifatnya yang baru. Dia sudah biasa ‘langganan’ untuk kesiangan.
“Waaa…gawat! Udah jam 7. Bisa-bisa aku terlambat untuk ikut upacara. Duuh…cepet…cepet…” yups…seperti biasa dan selalu begitu. Chaca langsung ke bawah memakan rotinya dan berlari pergi. Secepat mungkin dia menyetop bis yang sedang melaju. Setelah sampai di sekolah barunya, dia merasa lega. Upacara belum dimulai, beruntung sekali Chaca pagi itu. Tapi bukan sekali itu saja dia mengalami keberuntungan itu. Terhitung sudah 20 kali dia seperti itu. Entah apa yang membuatnya selalu beruntung.
Di gerbang sekolah barunya terpampang spanduk bertuliskan “SELAMAT DATANG DAN SEMOGA BAHAGIA”. Yah, seperti spanduk untuk pernikahan. Chaca memandangi spanduk itu dengan heran. Chaca mulai memasuki sekolah barunya itu. Dia mendekat ke papan pengumuman dimana tertempel banyak nama yang dibagi menjadi beberapa kolom untuk membedakan kelasnya.
“Hmm…kelas tujuh…” Chaca berusaha mencari namanya.
“Ahaa…ketemu! Tujuh C?” Chaca masih mengamati nama-nama yang siswa yang masuk kedalam kelompok kelasnya itu. Tapi, tidak ada satu pun orang yang dia tahu.
“Chaca!” Chaca menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tia dan Intan memanggilnya. Dua temannya yang sejak SD selalu sekelas dengannya.
“Ah, hei!” Chaca balas menyapa.
“Dapat kelas mana?” Tanya Tia pada Chaca.
“Tujuh C. Kalian?” balas Chaca.
“Aku dan Tia satu kelas. Kami di kelas tujuh A.” jawab Intan sambil tersenyum.
“Huaaa…kalian licik!” teriak Chaca kesal.
“Loh, kok licik?” Tanya Tia yang heran melihat Chaca yang memasang tampang kesal.
“Ya! Licik! Kok aku gak dapet kelas yang sama ma kalian sih?” Chaca menjawab masih dengan tampang kesal.
“Haha…Chaca, Chaca! Mau gimana lagi? Udah ditentuin dari sananya. Udah mutlak! Sabar aja lah” kata Intan sambil tertawa dan disambut juga dengan tawa dari Tia. Chaca makin kesal, rasanya ingin dia balas perkataan kedua temannya itu. Tapi…
Teng Teng…
“Udah ya Cha. Bel udah bunyi. Kita mau ke lapangan dulu. Kan masih ada upacara. Dah ya. Bye” kata Intan.
“Ya Cha, bye” lambai Tia dan Intan sambil meninggalkan Chaca yang masih kesal.
“Uuh..dah ah. Mendingan baris” Chaca berangsur pergi ke lapangan.
♬♬♬
Selama 40 menit mereka upacara. Hampir 20 menit dihabiskan untuk mendengarkan pidato dari kepala sekolah. Selama itu pula Chaca hampir tertidur. Seandainya waktu itu ada bantal, dia pasti akan langsung tidur tanpa menunggu. Dia merasa ingin sekali melempar sepatunya ke depan kepala sekolah itu *cara yang tidak patut dicontoh*, tapi dia merasa sepatunya masih bagus. Baru dibeli, jadi sayang kalau dilempar, itulah pikirnya.
Selain itu, kepala sekolahnya itu memang menyebalkan. Ketika dia akan mengakhiri pidatonya itu, tiba-tiba dia menambahkan lagi kata-kata lain, contohnya,
“Nah sekian pidato dari saya…” Chaca merasa lega mendengar itu, tapi…
“Saya harap kalian betah menjadi murid disini ya” Chaca masih meredam perasaan kesalnya.
“Sekian dan terima kasih” kata kepala sekolah, dan…
“Sekali lagi, saya harap kalian semua betah menjadi murid disini”
Ingin sekali Chaca melemparkan sepatunya itu. Begitu berulang-ulang hingga menghabiskan waktu 5 menit. Selama itu pula, Chaca menahan diri supaya tidak melampiaskan kemarahannya dengan cara yang tidak benar itu. Setelah itu, upacara yang menyebalkan itu selesai. Semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Kekesalan Chaca masih berlanjut, karena dia mendapat tempat duduk di pojok belakang. Dan lagi, dia tidak kenal dengan siapa pun yang ada di kelasnya itu. Chaca hanya bisa duduk termangu melihat teman-temannya yang lain bercanda, ngobrol, dan berbagi cerita bersama. Sedangkan dia, hanya duduk di pojokan seperti orang yang sedang menunggu antrian panjang pembagian sembako gratis. Menyedihkan dan menyebalkan bagi Chaca.
Tiba-tiba seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas Chaca. Para siswa dan siswi yang dari tadi ngobrol bersama temannya langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Si guru itu langsung berbicara,
“Nah murid-murid, selamat datang ke SMP ini. Saya harap kalian betah untuk belajar di SMP ini. Sebelumnya selamat karena telah bisa masuk ke SMP ini, salah satu SMP favorit di kota kita ini. Perkenalkan, saya Kina Perjandi, saya adalah wali kelas dan saya mengajar pelajaran Seni dan Budaya. Ada yang mau ditanyakan?” begitulah penjelasan dari ibu Kina yang hanya terdengar sedikit oleh Chaca yang sedari tadi hanya terbengong di pojokan kelas.
“Ibu masih single atau udah married bu?” Tanya salah satu murid laki-laki.
“Saya masih single” jawabnya.
“Tanggal lahir ibu berapa bu?” murid lain bertanya.
“28 September” jawabnya lagi.
“Ada lagi pertanyaan?” Tanya ibu Kina.
“Kalau begitu lebih baik kita saling memperkenalkan diri. Semua murid satu-persatu maju ke depan memperkenalkan dirinya masing-masing” jelas ibu Kina. Maka, dimulailah acara perkenalan diri itu. Diantara murid-murid itu ada 3 orang murid yang menarik perhatian Chaca. Mungkin karena sifat mereka yang menurut Chaca agak aneh.
Yang pertama namanya Luna. Dia memakai jilbab dengan modis dan rapi. Terlihat agak feminine dan pemalu. Badannya kecil dan sepertinya pintar. Ketika memperkenalkan diri pun dia terlihat gugup dan malu.
Yang kedua adalah Nata. Cewek ini memakai baju yang kurang rapi. Terlihat sekali bahwa dia tidak feminine dan jauh dari kata feminine itu. Cara berbicaranya pun santai dan tidak gugup.
Yang ketiga itu namanya Clara. Cewek yang bajunya terlihat rapi. Dia terlihat berbicara spontan dan menarik perhatian semua murid karena cara berbicaranya yang lucu seperti anak-anak.
Setelah memperkenalkan diri masing-masing, ibu Kina memberikan selebaran yang berisi daftar kegiatan ekstra kulikuler yang akan dipilih siswa-siswi masing-masing. Diantara semua daftar itu, hanya satu ektra kulikuler yang menarik perhatian Chaca, yaitu “Klub Musik dan Band”. Chaca yang dari dulu menyukai hal-hal berbau band dan selalu bercita-cita bisa membuat sebuah band yang berisi cewek semua.
Setelah ibu Kina keluar, seluruh murid keluar untuk mendaftar ke klub atau ektra kulikuler yang mereka pilih. Chaca bergegas pergi ke ruang klub musik dan band yang berada di kelas bawah. Chaca segera memasuki ruang klub itu.
“Permisi…” sapa Chaca.
Tak ada sahutan. Kosong dan tidak ada satu orang pun. Ketika dia melangkah keluar dan berbalik tiba-tiba 3 cewek berada di belakangnya.
“Huaa…!!” Chaca terkejut karena tiba-tiba 3 cewek itu datang.
“Loh, kalau gak salah kamu kan Chaca Freysa itu kan?” Tanya salah satu dari mereka.
“Loh, kalian kan Luna Khaira, Nata Claresta, dan Clara Afriani kan? Bukankah kalian satu kelas dengan ku? Ya kan?” Chaca balik bertanya.
“Kok kalian disini? Gak daftar ekskul ya?” Tanya Chaca.
“Kami kesini untuk ikut klub ekskul ini” jawab Nata dengan santai.
“Kamu?” Tanya Clara.
“Aku kesini juga mau daftar sih, tapi waktu aku masuk gak ada orang. Sepi dan kosong. Jadi, aku mau ke kantor guru untuk menemui ibu Kina yang menanggung jawabi klub ini. Kalian mau ikut?” jelas Chaca.
“Boleh…ayo!” Nata segera menarik tangan Chaca dan Luna dan segera berjalan menuju kantor guru diikuti Clara dibelakang. Sesampai di kantor guru, mereka langsung menemui ibu Kina.
“Jadi kalian mau ikut klub itu?” Tanya bu Kina.
“Ya dong. Tentu bu!” jawab Nata semangat.
“Kalau gitu, kalian susun aja klub itu dulu dan sekalian rapikan ruang klubnya. Nih kuncinya” bu Kina memberikan kunci ruang klub kepada Chaca. Mereka segera kemabali menuju ruang klub. Mereka merapikan dan menata semua barang-barang klub itu. Rencananya, mereka akan memulai menyusun klub itu besok. Hari ini, mereka hanya akan merapikan ruang klub.
♬♬♬
Desain Rumah real estate design collection SEO |






0 komentar:
Posting Komentar