Klub Musik dan Band
“Semua sudah berkumpul kan? Jadi, mari kita mulai pertemuan pertama kita di klub ini pertama kali” Nata berbicara dengan semangat dan riang.
“Yaaaa!” sahut Clara riang.
Clara memandangi heran kedua orang itu. Sedangkan Luna, hanya tersenyum simpul melihat kedua temannya bersemangat. Mereka berkumpul kembali keesokan harinya pas istirahat siang.
“Nah, mari kita kenalkan diri kita masing-masing sekarang” kata Luna.
“Aku yang pertama ya!” Nata mengajukan diri.
“Ya…silakan!” jawab Luna.
“Nama lengkap ku Nata Claresta. Panggil aku Nata. Kelas ku adalah tujuh C seperti kalian. Alat music yang bisa aku mainkan adalah drum. Alasan ku menyukai dan mempelajari alat musik itu karena bagiku drum adalah alat music yang paling mudah untuk dimainkan” Nata memperkenalkan diri.
“Berikutnya aku” Chaca segera mengajukan diri sambil mengangkat tangan kanannya.
“Ya!” Luna menjawab.
“Aku Clara Afriani. Panggil saja Clara. Aku juga di kelas tujuh C. Hobi ku makan-makanan manis. Aku juga menyukai hal-hal yang berbau mistis. Alat music yang bisa ku mainkan dari kecil adalah keyboard” jelas Clara.
“Aku Luna Khaira. Panggil saja Luna. Aku juga di kelas tujuh C. Aku suka dengan hal-hal yang berbau islami. Aku hanya bisa memainkan alat music bass” katanya dengan sopan dan jelas.
“Nah…sekarang giliran Chaca” kata Nata.
“Hmmm…aku Chaca Freysa. Kalian bisa memanggil ku Chaca. Sama seperti kalian, aku juga di kelas tujuh C. Cita-cita ku adalah bisa membuat band terhebat dan menjadi guitarist terbaik yang pernah ada” kata Chaca.
“Nah…perkenalan diri kita selesai. Kita akan berkumpul lagi sepulang sekolah nanti” Luna mengatakan sembari berdiri berjalan keluar.
“Ayo kita ke kelas sama-sama!” ajak Clara sambil menarik tangan Chaca.
“Ya! Ayo!” Chaca berdiri mengikuti langkah 3 teman barunya itu. Dia merasa senang karena akhirnya dia tidak sendirian lagi. Mulai hari ini, dia akan menjalani kehidupan sekolah yang menyenangkan.
♬♬♬
Teng teng…
Bel pertanda sekolah usai pun berbunyi. Chaca mengahmpiri ketiga teman barunya segera pergi ke ruang klub. Chaca membawa gitar kesayangannya ke ruang klub. Luna membawa bass miliknya. Clara membawa keyboardnya, sedangkan Nata hanya membawa stik drumnya. Mereka segera pergi untuk mengetes kecocokan music mereka berempat.
“Coba kita mainin lagunya Nidji yang Laskar Pelangi?” pinta Nata.
“Oke…” balas yang lain.
“One, Two, Three, GO!!” Nata member aba-aba. Mereka memainkan lagu itu dengan sangat baik. Bagus sekali. Merdu, tidak kalah dengan band aslinya.
Plok..plok..
Suara tepuk tangan seseorang di depan pintu ruang klub.
“Bagus sekali”. Ya, suara yang lembut memuji Chaca dan teman-temannya. Bu Kina, pembina klub music dan band ini masuk ke dalam ruang klub.
“Maaf saya terlambat. Tadi ada rapat guru-guru”. Jelas Bu Kina.
“No problem bu! Kami juga hanya mengetes kecocokan music kami berempat. Bagaimana pendapat ibu?” Tanya Clara.
“Bagus. Musik kalian cocok. Suara gitar Chaca, bass Luna, Keyboard Clara, dan gebukan drum Nata bercampur menghasilkan music yang bagus” komentar bu Kina sambil tersenyum.
“Makasih bu” jawab keempat murid tersebut kompak.
Chaca, Luna, Clara, dan Nata menuju kursi yang telah mereka sediakan saat merapikan ruang klub kemarin. Mereka berempat termasuk bu Kina duduk bersama di atas kursi masing-masing dan di hadapan mereka meja berbentuk persegi empat panjang. Diatasnya terdapat 5 gelas minuman es teh dan beberapa cookies.
“Jadi, apa kalian sudah menentukan nama band kalian ini?” Tanya bu Kina.
“Hoo iya. Kami belum menentukannya” kata Chaca sambil mengunyah cookiesnya itu.
“Iya ya. Apa ya namanya?” piker Clara sambil mengunyah cookies nya penuh di dalam mulutnya itu.
“Claraa!! Kalo ngomong jangan sambil ngunyah gitu dong. Lihat tuh, muncrat semua!” protes Luna sambil menunjuk remah-remahan cookies yang jatuh di atas meja di depan Clara.
“Iya iya. Maaf. Ntar cookies nya abis. Aku gak dapet. Hehe” Clara member alasan.
“Sruupppp…ahh…!!” Nata meneguk es teh nya dengan cepat.
“Naataaa!!! Minumnya pelan-pelan dong!” protes Luna lagi.
“hem..?? Iya iya deh” jawab Nata.
“Ckckckck…kok jadi sibuk makan minum sih? Nama band nya apa?” kata Chaca melirik Clara dan Nata yang sibuk makan dan minum.
“Hem..okeoke…maaf” Nata menjawab dan berhenti memakan cookies yang dipegangnya.
“Claaraaa!!” lirik Chaca ke Clara yang sedang mengambil cookies lagi.
“Iya deh. Iya” Clara menurunkan tangannya yang tadi akan mengambil cookies. Dia nggak jadi mengambil cookies tadi.
“Haha…kalian ini” tawa bu Kina.
“Gimana kalo nama band nya The Tea?” usul Luna.
“Kenapa?” Tanya Nata.
“Kita kan minum teh” alasan Luna.
“Kalo di tambah Cookies gimana?” usul Clara yang dari tadi berusaha mengambil cookies yang tinggal 2 buah di atas meja.
“Great Idea!!” kata Nata spontan.
“Jadi nama band kita…” Chaca mencoba menggabungkan kata-kata yang di usulkan teman-temannya itu.
“The Tea and Cookies!!!” teriak mereka berempat kompak.
“Good name girls!” puji bu Kina.
“Yosh!!! Jadi kita adalah sebuah band yang bernama The Tea and Cookies!” Nata mengulang nama band mereka dengan semangat.
“Yeaah!!!” teriak yang lain semangat.
“Nah, kalo gitu ibu pamit dulu ya. Sudah jam 4 sore. Ibu masih harus beres-beres rumah. Dah…” bu Kina pamit dan keluar dari ruang klub.
“Iya ya, gak kerasa udah ham 4 sore. Pulang yuk!” ajak Luna.
“Beresin dong nih dulu!” ajak Chaca.
Mereka membereskan ruang klub mereka. Meja yang berisi remahan cookies dan tetesan es the tadi dibersihkan. Gelas-gelas tadi dicuci bersih. Tak lupa mereka menutup jendela ruang klub. Chaca memasukkan Gitar kesayangannya ke tasnya lagi, Luna memasukkan Bassnya ke dalam tasnya, Clara memasukkan keyboardnya, dan Nata memasukkan stik drumnya ke tas. Mereka bersiap pulang ke rumah masing-masing.
♬♬♬
Desain Rumah real estate design collection SEO |






0 komentar:
Posting Komentar